Diposkan pada Uncategorized

MATERI SEJARAH PEMINTAN KELAS XI IIS (PART 1)

INDONESIA PADA MASA HINDU-BUDHA

  1. Masuknya Agama Hindu-Budha di Indonesia

Proses dan waktu kapan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia sampai sekarang masih menjadi perdebatan di antara para sejarawan. Setidaknya terdapat empat pendapat, yang masing-masing pendapat sesungguhnya saling menguatkan. Adapun pendapat-pendapat tentang masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Teori Brahmana

Teori Brahmana, mengatakan bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia adalah orang-orang Hindu berkasta brahmana. Para brahmana yang datang ke Indonesia merupakan tamu undangan dari raja-raja penganut agama tradisonal di Indonesia. Ketika tiba di Indonesia, para brahmana ini akhirnya ikut menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Ilmuan yang mengusung teori ini adalah Van Leur.

  • Teori Waisya

Teori Waisya, mengatakan bahwa yang telah berhasil mendatangkan Hindu ke Indonesia adalah kasta waisya, terutama para pedagang. Para pedagang banyak memiliki relasi yang kuat dengan para raja yang terdapat di kerajaan Nusantara. Agar bisnis mereka di Indonesia lancar, mereka sebagai pedagang asing tentunya harus membuat para penguasa pribumi senang, dengan cara dihadiahi barang-barang dagangan. Dengan demikian, para pedagang asing ini mendapat perlindungan dari raja setempat. Di tengah-tengah kegiatan perdagangan itulah, para pedagang tersebut menyebarkan budaya dan agama Hindu ke tengah-tengah masyarakat Indonesia. Ilmuwan yang mencetuskan teori ini adalah N.J. Krom.

  • Teori Ksatria

Teori Ksatria, mengatakan bahwa proses kedatangan agama Hindu ke Indonesia dilangsungkan oleh para ksatria, yakni golongan bangsawan dan prajurit perang. Menurut teori ini, kedatangan para ksatria ke Indonesia disebabkan oleh persoalan politik yang terus berlangsung di India sehingga mengakibatkan beberapa pihak yang kalah dalam peperangan tersebut terdesak, dan para ksatria yang kalah akhirnya mencari tempat lain sebagai pelarian, salah satunya ke wilayah Indonesia. Ilmuan yang mengusung teori ini adalah C.C. Berg dan Mookerji.

  • Teori Arus Balik

Teori Arus Balik, mengatakan bahwa yang telah berperan dalam menyebarkan Hindu di Indonesia adalah orang Indonesia sendiri. Mereka adalah orang yang pernah berkunjung ke India untuk mempelajari agama Hindu dan Buddha. Di pengembaraan mereka mendirikan sebuah organisasi yang sering disebut sanggha. Setelah kembali di Indonesia, akhirnya mereka menyebarkan kembali ajaran yang telah mereka dapatkan di India. Pendapat ini dikemukakan oleh F.D.K. Bosch.

  1. Perkembangan Kebudayaan Hindu–Buddha di Indonesia

Sikap aktif selektif diterapkan bangsa Indonesia terhadap kebudayaan dari luar, artinya kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia diseleksi dan disesuikan dengan kepribadian bangsa Indonesia. Oleh karena itu, setelah agama dan kebudayaan Hindu–Buddha masuk ke Indonsia terjadilah akulturasi. Perwujudan akulturasi antara kebudayaan Hindu–Buddha dengan kebudayaan Indonesia, antara lain sebagai berikut.

  • Seni Bangunan

Wujud akulturasi seni bangunan terlihat pada bangunan candi, salah satu contohnya adalah Candi Borobudur yang merupakan perpaduan kebudayaan Buddha yang berupa patung dan stupa dengan kebudayaan asli Indonesia, yakni punden berundak (budaya Megalithikum). Untuk penjelasan lebih lengkap, silahkan baca artikel tentang Candi (Pengertian, Karakteristik, Pengelompokan)

  • Seni Rupa dan Seni Ukir

Akulturasi di bidang seni rupa dan seni ukir terlihat pada Candi Borobudur yang berupa relief Sang Buddha Gautama (pengaruh dari Buddha) dan relief perahu bercadik, perahu besar tidak bercadik, perahu lesung, perahu kora-kora, dan rumah panggung yang di atapnya ada burung bertengger (asli Indonesia). Di samping itu, ragam hias pada candicandi Hindu–Buddha dan motif-motif batik yang merupakan perpaduan seni India dan Indonesia.

  • Aksara dan Seni Sastra

Pengaruh budayaHindu–Buddha salah satunya menyebabkan bangsa Indonesia memperoleh kepandaian membaca dan menulis aksara, yaitu huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Kepandaian baca-tulis akhirnya membawa perkembangan dalam seni sastra. Misalnya, cerita Mahabarata dan Ramayana berakulturasi menjadi wayang “purwa” karena wayang merupakan kebudayaan asli Indonesia. Demikian juga kitab Mahabarata dan Ramayana digubah menjadi Hikayat Perang Pandawa Jaya dan Hikayat Sri Rama, dan Hikayat Maharaja Rahwana. Dalam pertunjukan pewayangan yang merupakan kebudayaan asli Indonesia, isi ceritanya dari India yang bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana. Munculnya punakawan, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong adalah penambahan bangsa Indonesia sendiri. Ragam hias pada wayang purwa adalah akulturasi seni India dan Indonesia.

  • Sistem Pemerintahan

Di bidang pemerintahan dengan masuknya pengaruh Hindu maka muncul pemerintahan yang dipegang oleh raja. Semula pemimpinnya adalah kepala suku yang dianggap mempunyai kelebihan dibandingkan warga lainnya(primus interpares). Raja tidak lagi sebagai wakil dari nenek moyang, tetapi sebagai penjilmaan dewa di dunia sehingga muncul kultus “dewa raja”.

  • Sistem Kalender

Masyarakat Indonesia telah mengenal astronomi sebelum datangnya pengaruh Hindu–Buddha. Pada waktu itu astronomi dipergunakan untuk kepentingan praktis. Misalnya, dengan melihat letak rasi (kelompok) bintang tertentu dapat ditentukan arah mata angin pada waktu berlayar dan tahu kapan mereka harus melakukan aktivitas pertanian. Berdasaran letak bintang dapat diketahui musim-musim yang ada, antara lain musim kemarau, musim labuh, musim hujan, dan musim mareng. Jadi di Indonesia telah mengenal sistem kalender yang berpedoman pada pranatamangsa, misalnya mangsa Kasa (kesatu) dan mangsa Karo (kedua). Kebudayaan Hindu–Buddha yang masuk ke Indonesia telah memiliki perhitungan kalender, yang disebut kalender Saka dengan perhitungan 1 tahun Saka terdiri atas 365 hari. Menurut perhitungan tahun Saka, selisih tahun Saka dengan tahun Masehi adalah 78 tahun.

  • Sistem Kepercayaan

Nenek moyang bangsa Indonesia mempunyai kepercayaan menyembah roh nenek moyang (animisme) juga dinamisme dan totemisme. Namun, setelah pengaruh Hindu– Buddha masuk terjadilah akulturasi sistem kepercayaan sehingga muncul agama Hindu dan Buddha. Pergeseran fungsi candi. Misalnya fungsi candi di India sebagai tempat pemujaan, sedangkan di Indonesia candi di samping tempat pemujaan juga ada yang difungsikan sebagai makam (biasanya raja/pembesar kerajaan).

  • Filsafat

Akulturasi filsafat Hindu Indonesia menimbulkan filsafat Hindu Jawa. Misalnya, tempat yang makin tinggi makin suci sebab merupakan tempat bersemayam para dewa. Itulah sebabnya raja-raja Jawa (Surakarta dan Yogyakarta) setelah meninggal dimakamkan di tempat-tempat yang tinggi, seperti Giri Bangun, Giri Layu (Surakarta), dan Imogiri (Yogyakarta).

 

  1. Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

Setelah kita mempelajari masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu–Buddha di Indonesia, marilah sekarang kita pelajari kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya serta hukum di Indonesia pada masa kerajaan-kerajaan bercorak Hindu atau Buddha. Lahirnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha merupakan salah satu perubahan yang penting dengan masuknya pengaruh tradisi Hindu-Buddha di Indonesia. Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha yang terdapat di Indonesia antara lain:

  1. Kerajaan Kutai
  2. Kerajaan Tarumanegara
  3. Kerajaan Mataram Kuno
  4. Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Isana
  5. Kerajaan Sriwijaya
  6. Kerajaan Singasari
  7. Kerajaan Kediri
  8. Kerajaan Majaphait
  9. Kerajaan Sunda
  10. Kerajaan Bali
Diposkan pada pendidikan, sejarah

MATERI SEJARAH PEMINATAN KELAS XII IIS (PART 1)

RESPON INTERNASIONAL TERHADAP PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Negara Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946. Kemudian pada tanggal 10 Juni 1947, Mesir mengakui kedaulatan negara RI secara de jure. Hal ini ditandai dengan ditanda-tanganinya secara resmi perjanjian persahabatan antara Indonesia dan Mesir. Kemudian berhubungan dengan perjanjian persahabatan tersebut, pemerintah NKRI mendirikan Kedutaan RI pertama di luar negeri. Kemudian secara berturut-turut negara-negara di Timur tengah atau Liga Arab memberikan dukungan dan pengakuan secara de jure terhadap kemerdekaan Negara Indonesia. Kenyataan ini seperti yang diungkapkan oleh A.H. Nasution berikut ini :

“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi Arabia, Jemen,memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan Iran Turki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Sementara itu negara Palestina justeru secara de facto mengakui RI sebagai negara yang merdeka setahun sebelum kemerdekaan RI yang sebenarnya, yaitu tepatnya pada tanggal 6 September 1944. Pengakuan tersebut disebarluaskan ke seluruh dunia Islam oleh seorang mufti besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia ini bertepatan dengan janji-janji yang dikeluarkan oleh Jenderal Kuniaki Koiso (P. M. Jepang) terhadap kemerdekaan negara indonesia.

Ada juga yang memiliki pendapat bahwa negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia baik secara de facto maupun de jure adalah Vatican, negerinya Paus. Kalau untuk kawasan Eropa mungkin saja betul negara ini yang pertama (Maaf saya belum punya sumber untuk ini) tetapi kalau untuk yang pertama di dunia, cukup sudah pernyataan dari pelaku sejarah di atas yakni A.H. Nasution untuk membantahnya.

Sedangkan gembongnya kolonialisme di Indonesia yakni Belanda, baru secara resmi mengakui kemerdekaan negara RI pada tanggal 16 Agustus 2005.

Arti penting pengakuan

Meski demikian, penyerahan pengakuan secara tertulis dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah RI tetap merupakan peristiwa sejarah penting bagi RI. Pengakuan ini akan mengubah kedudukan RI sebagai suatu negara di mata Belanda.

Diposkan pada Uncategorized

Terus Berkarya Meski Sulit

​Jika suatu hari nanti kita tak lagi bersama mereka, kita tak lagi melihat canda gurau mereka dan kita bukanlah lagi bagian dari hidup mereka bahkan kita hanyalah merupakan masa lalu dari mereka. mereka hanya akan mengingat kita sebagai sosok yang pernah mengajar dan mendidik mereka, atau mungkin kita hanyalah sosok yang membosankan atau menyebalkan dalam masa lalu mereka.

Kehidupan mereka akan baik-baik saja tanpa ada kita di hadapan dan di samping mereka bahkan mungkin kehidupan mereka lebih baik dari kita. namun setidaknya kita akan menjadi bagian kecil dalam cerita kehidupan mereka walaupun terkadang mereka lupa akan jasa kita. mungkin inilah alasannya kita disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. selamat hari guru, teruslah berkarya sekalipun profesi ini sulit bagi kita.

Diposkan pada Uncategorized

Belajar Mengajar dan Mendidik

​Terkadang aku merasa munafik, karena aku merasa mampu membuat mereka mengerti padahal aku sendiri terkadang tidak mampu mengerti apa yang ingin aku mengerti.

Terkadang aku merasa sombong, karena aku merasa mampu membuat mereka memahami, padahal aku sendiri terkadang tidak mampu memahami apa yang sebenarnya ingin aku pahami.

Terkadang aku merasa arogan, karena aku merasa mampu membuat mereka percaya apa yg aku katakan, padahal terkadang aku sendiri merasa kurang percaya dengan yang aku katakan.

Terkadang aku merasa congkak karena merasa mampu membuat mereka pintar padahal aku sendiri merasa masih jauh dari kata pintar.
Namun terkadang aku perlu melakukan semua itu karena aku merasa sebagai pengajar dan pendidik. walaupun sebenarnya tak semestinya aku melakukan semua itu. 

Diposkan pada Uncategorized

Menyontek Sebagai Budaya Laten

Menyontek, kata yang sering kita dengar jika hidup di lingkungan sekolah, menyentek adalah sebuah budaya buruk yang di budaya kan dengan baik di dalam lingkungan sekolah oleh orang orang yang tidak baik yang mencoba ingin menjadi baik dengan cara instan dan curang. Menyontek di kalangan pelajar era sekarang ini bukan lagi sebuah kebiasaan yang memalukan melainkan sebuah gaya hidup dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Mengapa demikian? alasannya sederhana karena menyontek telah menjadi budaya laten,apa maksudnya?  Budaya laten dalam artian suatu kebiasaan buruk yang mereka lakukan tetapi mereka merasa tidak melakukan, sederhananya mereka melakukannya sudah dalam keadaan yang mereka tidak sadari lagi. Alasannya karena suatu kebiasaan yang sudah mendarah daging itu cendrung sulit berubah bahkan menjadi suatu kebutuhan primer yang wajib di penuhi ketika proses penilaian hasil belajar di sekolah atau sering di sebut dengan ulangan. Tragis memang ketika kita membudayakan budaya yang buruk seperti ini, tapi inilah realita pendidikan saat ini. Inilah gambaran suatu bangsa yang mengedepankan nilai angka dibandingkan dengan nilai kejujuran.

Diposkan pada Uncategorized

Tidak Senang Bila Tidak Libur

Tidak senang bila tidak libur, itulah pernyataan dari salah satu murid saya dengan lugu nya. Bahkan dia berpendapat sekolah lain akan lebih baik bila sekolah mereka libur. Dia akan mem banding bandingkan sekolahnya dengan sekolah lain bahwa sekolahnya sangat buruk. Aneh rasanya jika standar sekolah baik itu jika hanya di liat dari banyak liburnya saja. Inilah gambaran mentalitas  siswa siswi sekarang. Bahkan mereka menambahkan dengan tegasnya dan lantang nya bahwa sekolah bagus tersebut jika sekolah tersebut pulangnya lebih cepat seperti jam biasanya, mereka juga menyatakan mereka mau pulang untuk lebih lambat jika sekolah tersebut memiliki sana dan fasilitas yang memadai. Jadi intinya sarana prasarana atau fasilitas harus menjadi perhatian utama bagi semua elemen yang bertanggung jawab akan peningkatan mutu pendidikan. Itulah sedikit keluhan peserta didik saya yang sebenarnya tidak saya pikirkan tetapi hanya saya tuliskan menjadi sebuah tulisan. Tujuannya biar orang yang membaca yang memikirkan. Kayapa menurut pian.

Diposkan pada Uncategorized

Jangan dibaca

Banyak hal yang sebenarnya tindakan yg kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang diperintahakan oleh orang lain, jangankan hal tersebut perintah dari orang lain, terkadang kita juga sering melakukan apa yang sebenarnya tidak perlu di lakukan karena hati dan pikiran kita sendiri menolak untuk melakukannya. Mengapa bisa demikian?
Memang tindakan seorang individu terkadang di kontrol dan di kendalikan oleh akal sehat dan nuraninya, namun terkadang ada kalanya akal pikiran dan hati nurani terkesamping kan oleh nafsunya, sehingga apa yang dilakukan bertolak belakang dengan apa yang seharusnya di lakukan nya, inilah yang menyebabkan mengapa seorang individu perlu menyelaraskan antara hati, pikiran dan tindakan agar berjalan selaras serasi dan seimbang.
Ada beberapa hal yang mampu mempengaruhi tindakan seseorang dalam berprilaku atau berbuat, terutama tindakan yang berhubungan dengan orang lain yang ada disekeliling nya :
1. Faktor sugesti yaitu sebuah tindakan seseorang yang didasarkan pada pengaruh yang datangnya dari luar dirinya atau orang lain dan diterima oleh pemikirannya tanpa individu tersebut berpikir panjang atas tindakannya
2. Faktor simpati yaitu suatu keadaan dimana seorang individu memiliki rasa ketertarikan akan suatu hal atau suatu perasaan yang dirasakan oleh seseorang dimana seakan akan individu tersebut merasakan  apa yang orang lain rasakan
3. Faktor empati yaitu suatu tindakan yang merupakan kelanjutan dari rasa simpati yang diwujudkan dengan tindakan nyata.
4. Faktor imitasi yaitu suatu tindakan individu yang meniru prilaku atau tindakan orang lain yang di kagumi atau di banggakan nya
5. Faktor identifikasi yaitu suatu tindakan seseorang yang didasarkan pada keinginan seseorang ingin meniru tindakan orang yang dikagumi nya, tatapi bukan hanya sekedar meniru melainkan adanya dorongan yang sangat kuat untuk ingin sama persis atau identik.
6. Faktor motivasi yaitu sebuah dorongan yang sangat kuat yang datangnya dari luar diri atau dalam diri individu yang menyebabkan seseorang menjadi lebih termotivasi atau bersemangat dalam melakukan sebuah perbuatan atau tindakan.
Nah jika judul tulisan ini jangan dibaca tetapi ada perasaan kalian ingin membacanya berarti tindakan kalian didasarkan oleh faktor apa? Tahulah pian jawabannya.