Pendidikan Karakter di Mulai Sejak Usia Dini

Posted: Juli 25, 2013 in Uncategorized

Kalau dalam dua tahun terakhir ini pemerintah kita mulai gencar gencernya mengenalkan pendidikan karekter dalam pendidikan di Sekolah. Namun sudahkah pendidikan karakter yang di harapkan tercapai dan benar benar tersosilisasi dengan baik pada pendidikan kita sekarang ini. Mungkin saya akan menjawabnya belum. Alasannya sederhana saja, karena masih banyak para pelajar kita yang suka kebut kebutan di jalanan, menggunakan obat obatan terlarang (narkoba), siswa sekolah yang melakukan praktek prostitusi, bolos sekolah tanpa alasan yang jelas, mencontek di saat ujian dan ulangan, kurang hormat dengan guru, malas mengikuti pelajaran, malas mengerjakan tugas yang di berikan guru, dll.
mungkin alasan alasan di ataslah yang membuat pemerintah kita makin gigih dan semangat menerapkan pendidikan karakter di sekolah. Namun yang perlu kita pahami pendidikan karakter ini tidak hanya terpusat di sekolah,karena pada dasarnya pendidikan karakter itu bermula pada keluarga dan di mulai sejak usia dini atau ketika usia anak masih kecil, dan pendidikan karakter yang pertama dan utama di dapat oleh seorang anak di lingkungan keluarga dan yang menjadi agennya adalah ayah dan ibunya. Hal ini yang belum di mengerti oleh pemerintah kita dan di mengerti oleh banyak masyarakat, bahwa sekolah bukanlah induk dari pembentukan larakter melainkan keluargalah induk dari segala induk pembentukan karakter. Kita ambil contoh yang paling sederhana adalah karakter bertanggung jawab,  hal ini akan di dapat oleh seorang anak jika anak tersebut di ajarkan oleh orang tua yang mendidiknya selalu  mau menerima resiko akan semua yang di lakukannya dan bertanggungjawab  akan segala seseatu kesalahan yang di perbuatnya. Namun masih banyak orang tua yang tidak mendidik anaknya untuk bertanggung jawab, contohnya ketika anak berlari lari dan kemudian di terjerembab karena kakinya tersandung kursi sehingga anak tersebut menangis, kemudian apa yang di lakukan orang tua atau sang ibu ketika melihatnya?jelas sang ibu akan sigap dan bergegas menenangkan anaknnya yang menanggis,  biasanya dengan berkata” cup cup udah jangan nangis lagi, neh kursinya ibu pukul…”bammm,baaammm,baammm”,kemudian sang anak dengan begitu mampu berhenti menagis. Nah dari hal tersebut yaitu dari cara orang tua yang menenagkan anaknya yang menagis tanpa sadar sudah menanamkan karakter pada seorang anak untuk menjadi pribadi yang tidak mau di salahkan dan tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang di perbuatnya.
Semoga dari penjabaran tulisan saya yang singkat tersebut mampu membuat perubahan pada mainset atau pola pikir pembaca agar lebih memahami kembali pola mendidik anak pada usia dini,khususnya bagi siapa saja yang sudah berkeluarga dan yang telah memiliki anak. Karena seorang anak itu terlahir bagai selembar kertas yang putih,kitalah orang tua yang pertama kali menuliskan kalimat pada kertas tersebut, bila awal kalimat yang kita tuliskan baik,maka baik pulalah isi kelanjutan dari kalimat tersebut. Namun kita juga perlu memahami konsep akan pepatah bijak yang berbunyi “awal tidaklah menentukan akhir” karena pada kenyataannya masih ada terdapat fenomena seperti di mana seorang anak yang sangat buruk akhlaknya padahal dia terlahir di keluarga yang berpendidikan dan sadar akan pendidikan moral serta etika. Mungkin untuk hal seperti ini dan fenomena tersebut perlu kita bahas di lain waktu dalam tulisan dan ulasan yang berbeda. Karena masih banyak hal yang perlu kita pertimbangkan dan pahami dalam pembentukan karakter seorang anak,selain faktor keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s