Soal Remedial UTS Sejarah XI.A TKJ SMK Swadaya Semester I

Posted: Oktober 16, 2014 in Uncategorized

soal

1. sebutkan pebedaan antara kolonialisme dengan imprealisme?

2. jelaskan faktor apa saja yang menyebabkan negara indonesia selalu dikuasai oleh para penjajah?

Komentar
  1. muhammad syahril jihad mengatakan:

    Assalamualaikum wr.wb
    Kami dari kelompok
    -M.Noor Firdaus
    -M.Riyan Ridoni
    -M.Rojib
    -M.Syahril Jihad
    M.Sandi Ruswindo
    XI a TKJ
    Hasil peninggalan benda sejarah di museum lambung mangkurat banjarbaru
    Youtube: link 1 http://youtu.be/RZUDJMwVCzA

    Terima kasih

  2. Agung Prasetyo mengatakan:

    Jawab :
    1>Kolonialisme tujuannya untuk memperluas negara itu dengan menguasai daerah atau bangsa lain.

    Imperialisme adalah sistem politik yang tujuannya untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan lebih besar. Pada zaman sebelum revolusi industri, biasanya tujuannya adalah 3G (Gold, Glory, Gospel/ Harta, Kekuasaan, Menyebarkan ajaran)
    2>1.Terletak strategis
    2.Berlimpahnya rempah rempah
    3.Penjelajahan samudra
    1. Proses Kedatangan Bangsa-bangsa Eropa di Indonesia
    a. Portugis
    Semangat bertualang telah mendorong bangsa Portugis untuk mengarungi lautan. Mereka ingin menaklukkan tantangan alam, ingin menaklukkan orang yang berbeda keyakinan dengan mereka, ingin menyebarkan agama Kristen, serta menumpas bangsa-bangsa yang dianggap menghalangi tujuan mereka. Oleh karena itu, kapal penjelajah Portugis selalu dilengkapi dengan meriam. Senjata tersebut digunakan ketika mereka akan mendarat di pelabuhan yang didatanginya.
    Bangsa-bangsa Eropa mengenal wilayah Asia, termasuk Indonesia, melalui perdagangan. Putusnya jalur perdagangan Laut Tengah telah mendorong Portugis untuk menemukan daerah penghasil rempah-rempah, yaitu Maluku. Dari sinilah sejarah penjajahan di Indonesia dimulai. Pelayaran Portugis ke Indonesia dipimpin oleh Alfonso D’Alburquerque (1459-1511). Kedatangan Bangsa Portugis di Malaka dan Sumatra tidak disukai oleh sultan Malaka. Oleh karena itu, sultan-sultan di Malaka dan Sumatra, termasuk Aceh, melakukan penyerangan berkali-kali kepada Portugis. Ada kalanya dalam melakuakan penyerangan, mereka bersatu dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Namun, penyerangan mereka selalu mengalami kegagalan, bahkan armada Jawa di Malaka berhasil dihancurkan Portugis.
    Ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Alfonso D’Alburquerque berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Kolonialisme Portugis di Indonesia yang diawali dengan kedatangan Alfonso D’Alburquerque tersebut, dilakuakn dengan mengembangkan sistem imperialisme modern. Semboyan mereka adalah Gold (kekayaan), Glory (kejayaan), Gospel (kitab suci).
    Pada bulan Desember, Alfonso D’Alburquerque mengirim tiga kapal untuk menjelajah ke arah timur, di bawah pimpinan Antonio da Breu. Mereka meninggalkan Malaka dan menuju Madura, Bali, Lombok, Aru, dan Banda. Namun dua kapal yang dipimpin Antonio da Breu kandas di Banda.
    Akhirnya Antonio da Breu pun kembali ke Malaka. Penjelajahan dilanjutkan oleh Fransisco Serrao yang berhasil mencapai Ambon, Ternate, dan Tidore. Portugis membangun sebuah benteng di Ternate.
    Pada tahun 1513, Portugis membangun pabrik-pabrik di Ternate dan Bacan. Pada bulan Mei 1522, ekspedisi Portugis yang dipimpin oleh de Britox tiba di Ternate dan membangun benteng yang bernama “Sao Paolo”. Antonio da Galveo menjadi gubernur di sana. Di Ternate, Portugis menangkap Sultan Tabariji yang sedang berkuasa, karena dicurigai sebagai bagian dari gerakan anti-Portugis. Portugis pun melakukan penggantian kedudukan Sultan Tabariji oleh saudaranya.
    Selain itu Portugis juga membantu Ternate mengawasi Kesultanan Jailolo di Halmahera. Pada tahun 1570, sultan Ternate yang bernama Sultan Khairun menandatangani perjanjian persahabatan dengan Portugis. Namun, sehari sesudahnya, Sultan Khairun ditemukan meninggal karena racun. Rakyat Ternate menaruh curiga kepada Portugis.
    Setelah kematian Sultan Khairun, putra Sultan Khairun yang bernama Baabullah diangkat menjadi sultan (1570-1583). Ia berjanji akan mengusir Portugis dari benteng mereka. Pada tahun 1575, Baabullah pun telah memenuhi janjinya. Ia berhasil mengusir Portugis dari Ternate.
    Namun, selain di Ternate, Portugis juga telah berhasil menguasai daerah-daerah lain di Indonesia, seperti: Timor, Demak,Aceh, Flores, Ambon, dan lain-lain. Kebencian rakyat Indonesia terhadap Portugis mendorong mereka untuk mengadakan perlawanan. Rakyat Indonesia ingin mengusir Portugis dari bumi Indonesia.
    b. Spanyol
    Ekspedisi Spanyol tiba di Maluku pada tahun 1521 dipimpin oleh Ferdinand de Magelhaens. Kedatangan bangsa Spanyol ke Indonesia memiliki tujuan yang sama dengan Portugis, yaitu untuk menjajah dan menguasai perdagangan rempah-rempah. Oleh karena itu, kedatangan bangsa Spanyol di Maluku menimbulkan persaingan dan perselisihan dengan bangsa Portugis. Portugis merasa terganggu dalam usahanya untuk menjajah dan menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Hal ini menyebabkan timbulnya pertentangan antara Portugis dan Spanyol. Masing-masing dari mereka mendapat batuan dari kerajaan di Maluku yang juga saling berslisih, yaitu kerajaan Ternate dan Tidore. Perselisihan dua kerajaan tersebut dijadikan kesempatan oleh Portugis dan Spanyol untuk mendapatkan dukungan. Portugis pun menyerang Spanyol yang didukung Tidore dengan bantuan Ternate. Pada tahun 1529, Portugis dan Ternate berhasil mengalahkan Spanyol dan Tidore.
    Tetapi melalui “Perjanjian Saragosa” (1529), mereka sepakat untuk membagi daerah jajahan. Perselisihan di antara mereka dapat diakhiri, kemudian Spanyol meninggalkan Maluku untuk mencari daerah jajahan baru. Sedangkan Portugis semakin leluasa menancapkan kekuasaannya di Maluku.
    c. Belanda
    Pada tahun 1500, negara Belanda dikenal sebagai pusat perdagangan penting di Eropa. Mereka memperjualbelikan produk yang berasal dari Rusia, Scandinavia, Afrika, Asia, dan Amerika. Pada waktu itu, Belanda berada di bawah kekuasaan Spanyol. Namun, pada tahun 1581 Belanda mulai melepaskan diri dari Spanyol dan membentuk pemerintahan sendiri. Belanda mulai melakukan perjalanan ke Hindia pada tahun 1590.
    Pada tanggal 2 April 1595, ekspedisi Belanda di bawah pimpinan Cornelis De Houtman menuju Hindia. Pada tanggal 5 Juni 1596 ekspedisi Cornelis De Houtman tiba di Sumatra, kemudian pada tanggal 23 Juni, mereka tiba di Banten.
    Pada awalnya, Sultan Banten menerima kedatangan mereka denagn tangan terbuka. Namun, tindakan Belanda yang sewenang-wenang membuat Sultan Banten tidak simpati kepada Belanda. Sultan Banten yang saat itu sedang menjalin hubungan baik dengan Portugis, melakukan kerjasama untuk menyerang kapal Belanda. Akhirnya, Belanda pun terusir dari wilayah Banten.
    Pada tahun 1597, beberapa anggota ekspedisi Cornelis De Houtman menetap di Bali. Namun, mereka selalu mendapat perlawanan dari rakyat setempat, karena sikapnya yang buruk. Setelah mereka sampai di Madura, akhirnya Cornelis De Houtman kembali ke Belanda (1597) dengan membawa rempah-rempah. Anggota ekspedisi Cornelis De Houtman yang terdiri dari 248 orang pun hanya tersisa 89 orang.
    Kembalinya Cornelis De Houtman ke Belanda yang membawa rempah-rempah, mendorong para penjajah Belanda lainnya untuk datang ke Indonesia, karena pada saat itu, keuntungan perdagangan rempah-rempah mencapai 400%.
    Pada tahun 1598, 22 kapal Belanda dalam lima ekspedisi disiapkan untuk berlayar menuju ke Timur. Banyaknya ekspedisi telah menyebabkan terjadinya persaingan di antara para pedagang Belanda sendiri. Dalam upaya menghindari persaingan tersebut, pada tahun 1602 pemerintah Belanda membentuk persekutuan atau kongsi dagang yang diberi nama VOC(Verenigde Oost Indische Compagnie) atau Persekutuan Dagang Hindia Timur.
    Cornelis De Houtman melakukan ekspedisi yang kedua bersama dengan Yohanes Davis, seorang mata-mata Inggris. Pada tahun 1599, ekspedisi Belanda di bawah pimpinan Van Kleck yang menuju Maluku berhasil melakuakn perdagangan di Banda, Ambon, dan Ternate. Mereka meraih kesuksesan. Pada bulan Juni, Cornelis De Houtman terbunuh dalam konflik dengan Sultan Aceh.
    Kemudian, ekspedisi yang dipimpin oleh Van Nort, menyerang Spanyol di Guam. Bulan September 1600, laksamana Belanda Van den Haghen membuat aliansi dengan rakyat untuk melawan Portugis di Ambon. Pada tanggal 25-27 Desember 1601, lima kapal Belanda mengalahkan 30 kapal armada Portugis dalam pertempuran di pelabuhan Banten.
    Kemenangan Belanda terhadap Portugis mendorong VOC membangun pos di Gresik dan di Banten. Mereka mengirimkan armada ke Banda, Irian Jaya, dan ke bagian utara Australia. Pada tahun 1606, VOC kembali menyerang Portugis di Malaka, namun mengalami kegagalan. Setelah itu, VOC pun memulai perdagangannya di Banjar. VOC semakin melebarkan daerah jajahannya dengan mendirikan benteng di seluruh pelosok Indonesia.
    Para pedagang Indonesia pun mulai terdesak. Mereka tidak mampu menyaingi para pedagang Belanda yang terhimpun dalam VOC. Hal ini disebabkan VOC menerapkan monopoli perdagangan, mempunyai armada dagang yang besar, dan mereka juga memiliki kekuatan militer yang tangguh.
    Ketidakberdayaan rakyat Indonesia melawan kekuatan VOC menyebabkan VOC semakin berkuasa. Di bawah pimpinan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen, VOC menjadikan Pelabuhan Jayakarta (Batavia) sebagai pusat operasional VOC atas seluruh Nusantara. Jayakarta (Batavia) merupakan pelabuhan alternatif yang penting setelah Maluku dan Malaka.
    Berbagai cara yang dilakuakan VOC untuk mendapatkan kekuasaan tertinggi di Nusantara, yaitu seperti di bawah ini.
    1) Kekerasan, peperangan, dan tindakan kasar terhadap penguasa lokal dan para pedagang
    yang melawannya.
    2) Pengusiran dan pembunuhan terhadap penduduk yang menolak menjual barang kepada
    VOC.
    3) Penghancuran terhadap pusat-pusat perdagangan Islam Nusantara.
    4) Melakuakan tipu muslihat serta campur tangan terhadap urusan dalam negri kerajaan,
    terutama di Jawa.
    Dengan cara-cara tersebut, VOC menjalankan sistem penjajahannya dan satu per satu kerajaan Nusantara pun jatuh ke tangan VOC. Namun, kejayaan VOC tidak bertahan lama. Di penghujung abad ke-18, VOC mengalami kebangkrutan. Adapun penyebab dari kebangkrutan tersebut adalah merajalelanya korupsi di antara pengurusnya, kalah bersaing dengan organisasi-organisasi dagang lain, dan banyaknya biaya yang keluar dalam menumpas perlawan rakyat Indonesia. Karena VOC tidak mampu lagi membayar gaji para pegawainya, akhirnya VOC pun dibubarkan.
    Namun bubarnya VOC tidak membuat Indonesia lepas dari cengkeraman penjajahan Belanda, karena setelah lepas dari tangan VOC, Indonesia menjadi jajahan pemerintah Hindia Belanda.
    Sejak VOC dibubarkan tahun 1798, daerah yang menjadi kekuasaanya diambil-alih oleh pemerintah Hindia Belanda. Sementara itu, keadaan di tanah jajahan dan di negeri Belanda semakin memburuk. Untuk menyelamatkan Belanda dari kemerosotan akibat kekosongan kas negara, pemerintah Hindia Belanda mengangkat Van den Bosch sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia.

  3. Abdurrahman Zhafran mengatakan:

    Nama : Abdurrahman zhafran
    Kelas : XI TKJ.A

    1.Sebutkan perbedaan kolonialisme dengan imprealisme?
    Jawab : -Kolonialisme bertujuan untuk menguras habis sumber daya alam dari negara yang bersangkutan untuk diangkut ke negara induk.

    -Imperialisme bertujuan untuk menanamkan pengaruh pada semua bidang kehidupan negara yang bersangkutan.

    2. jelaskan faktor apa saja yang menyebabkan negara indonesia selalu dikuasai oleh para penjajah?
    Jawab :- Akibat sumber daya alam dan rempah-rempah yang berlimpah.
    – karena warga indonesia mudah dipengaruhi oleh bangsa luar.
    – Karena letak indonesia strategis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s